Batasan Muamalah Dalam Islam

Batasan Muamalah Dalam Islam

Sebagai seorang muslim, perlu diketahui adanya prinsip dasar yang harus dipahami dalam hal berinteraksi. Terdapat lima (5) perkara yang perlu diingat sebagai landasan bagi seorang muslim dalam berinteraksi yaitu Maisisir, Gharar, Haram, Riba, dan Bathil. Hal tersebut lebih dikenal dengan singkatan MAGHRIB, yang akan menjadi batasan secara umum bahwa transaksi yang dilakukan sah atau tidak.

1. Maisisir

Maisisir menurut bahasa artinya gampang / mudah. Menurut istilah, Maisir berarti memperoleh keuntungan tanpa harus bekerja keras. Maisisir sering dikenal dengan perjudian karena dalam praktik perjudian seseorang dapat memperoleh keuntungan dengan cara mudah. Kita tahu bahwa dalam sebuah perjudian, seseorang bisa dalam kondisi untung atau bisa rugi. Padahal islam mengajarkan tentang usaha dan kerja keras. Larangan terhadap maisisir / judi, sendiri sudah jelas ada dalam Al-Qur’an (2:219 dan 5:90).

2. Gharar

Dalam bahasa gharar berarti pertaruhan. Terdapat juga yang menyatakan bahwa gharar bermaksud syak atau keraguan. Dapat dikatakan bahwa konsep gharar berkisar kepada makna ketidaktahuan dan ketidakjelasan sesuatu transaksi yang dilaksanakan. Setiap transaksi yang masih belum jelas barangnya atau tidak berada dalam kuasanya (diluar jangkauan) termasuk jual beli gharar. Hal tersebut secara umum dapat dipahami sebagai berikut :

a. Barang yang ditransaksikan itu mampu diserahkan atau tidak

b. Transaksi tersebut dilaksanakan secara yang tidak jelas atau akad dan kontraknya tidak jelas, baik dari waktu bayarnya, cara bayarnya, dan lainnya.

Contoh transaksi yang bersifat gharar yaitu misalnya membeli burung di udara atau ikan dalam air atau membeli ternak yang masih dalam kandungan induknya. Contoh lain yaitu kegiatan para spekulan jual beli valas.

Baca Juga  Memilih Warna Cat Rumah untuk Desain Minimalis
3. Haram

Transaksi jual beli menjadi tidak sah ketika objek yang diperjualbelikan tersebut adalah haram. Misalnya saja jual beli khamr dan lain sebagainya.

4. Riba

Telah dinyatakan dalam beberapa ayat Al-Qur’an tentang pelarangan riba. Ayat-ayat yang menerangkan mengenai pelarangan riba diturunkan secara bertahap. Tahapan-tahapan turunnya ayat dimulai dari peringatan secara halus hingga secara keras. Berikut tahapan turunnya ayat mengenai riba :

Pertama

menolak anggapan bahwa riba tidak menambah harta justru mengurangi harta. Sesungguhnya zakatlah yang menambah harta. Dalam QS Ar-Rum : 39 dijelaskan bahwa:

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)

Kedua

riba diibaratkan sebagai suatu yang buruk dan balasan yang keras kepada orang Yahudi yang memakan riba. Di dalam QS. An-Nisa : 160-161, Allah berfirman:

“Maka disebabkan kelaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih”

Ketiga

Riba diharamkan dengan dikaitkan pada suatu tambahan yang berlipat ganda.

Allah menunjukkan karakter dari riba dan keuntungan menjauhi riba seperti yang tertuang dalam QS. Ali Imran : 130.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”

Keempat

Baca Juga  Cintai Allah dengan Keindahan

merupakan tahapan yang menunjukkan betapa kerasnya Allah mengharamkan riba.

Dalam QS. Al Baqarah : 278-279 berikut ini menjelaskan konsep final tentang riba dan konsekuensi bagi siapa yang memakan riba.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”

5. Bathil

Prinsip yang harus dijunjung dalam melakukan transaksi adalah tidak ada kedzhaliman yang dirasa pihak-pihak yang terlibat. Semuanya harus sama-sama rela dan adil sesuai takarannya. Oleh karena itu, dari sisi ini transaksi yang terjadi akan merekatkan ukhuwah pihak-pihak yang terlibat dan diharap agar bisa tercipta hubungan yang selalu baik. Kecurangan, ketidakjujuran, menutupi barang cacat, mengurangi timbangan merupakan hal yang tidak dibenarkan. Atau hal-hal kecil seperti menggunakan barang tanpa izin, meminjam dan tidak bertanggungjawab atas kerusakan harus sangat diperhatikan dalam bermuamalat.

Dengan demikian, sebagai umat muslim kita harus mengikuti kaidah-kaidah yang sesuai dengan muamalah atau syariat islam.  Tidak hanya dalam persoalan jual beli saja, namun juga terkait hutang piutang, kerja sama dagang, perserikatan, kerja sama dalam penggarapan tanah, dan sewa menyewa.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *