Kesalahpahaman Tentang Skema Syariah

Tidak sedikit masyarakat yang masih salah faham mengenai skema Syariah. Sehingga memunculkan komentar negatif. Maka dari itu, akan lebih baik di pelajari terlebih dahulu agar kesalahpahaman tersebut tidak terjadi, berikut kami paparkan kesalahpahaman yang masih sering terjadi.

1. Harga Cash dengan Skema bertahap kenapa berbeda jauh ya, katanya Syariah tapi kok masih ada margin sama dengan bunga, lalu apa bedanya dengan Konvensional, sama saja riba.

Masih banyak masyarakat khususnya umat muslim yang beranggapan bahwa margin sama dengan bunga. Padahal dalam hukum Islam,

Margin hukumnya halal, sedangkan Bunga itu haram.
Margin adalah tambahan dari proses jual beli, sedangkan Bunga merupakan tambahan dari proses Hutang Piutang.

Mungkin masih bingung ya, mari kita lihat dalam sebuah contoh. Misalnya: Membeli motor seharga Rp. 18.000.000, karena belum cukup uang maka anda pinjam ke orang lain atau lembaga keuangan seperti finance, koperasi atau perbankan lainnya. Kemudian angsuran yang harus anda bayarkan setiap bulan selama 3 tahun, sebesar Rp. 650.000/bulan. Jadi totalnya Rp. 23.400.000 selama 3 tahun atau 36 Bulan. Belum lagi kalau misal ada ketelambatan membayar dikenakan denda.

Dalam Islam transaksi seperti diatas tidak boleh hukumnya haram. Karena, disitu ada bunga atau tambahan dalam hutang piutang sebesar Rp. 5.400.000

Berbeda misalnya anda ingin punya motor, kemudian ada tetangga beli motor kepada dealer seharga Rp. 18.000.000 dengan cara cash dan dijual kembali kepada anda seharga Rp. 23.400.000 boleh dicicil atau diangsur selama 3 tahun.

Baca Juga  Proyek Perumahan Syariah belum Terbangun?

Dalam transaksi kedua ini diperbolehkan, karena bukan bunga tapi margin.

Mungkin akan berfikir harga sama kok yang bawah boleh yang atas tidak boleh, yang membedakan adalah akad nya.

2. Properti Syariah harganya lebih mahal

Harga jual rumah atau kavling tetap bergantung kepada harga pasaran disekitarnya, prospek investasi, lokasi yang strategis, fasilitas disekitarnya, dll. Mahal atau tidaknya suatu rumah itu tidak bergantung dari skemanya Syariah atau tidak Syariah. Tidak semua properti dengan skema rumah syariah mahal, banyak juga yang murah dan terjangkau. Tidak semua juga murah, properti dengan skema rumah Syariah yang high class juga sudah mulai bermunculan.

3. Biasanya di Iklan rumah Syariah suka diminta mengisi formulir minat dan diajak ke Gathering, beda dengan di Konvensional.

Setiap Developer pasti punya cara masing-masing, ada yang unik ada yang biasa. Termasuk juga inisiatif mengadakan gathering. Biasanya sebelum melakukan gathering diminta mengisi form minat dulu, tetapi juga tidak akan memaksa untuk beli.

Bagi masyarakat yang tidak tahu mengenai hal ini, biasanya akan berfikir negatif. Mengisi Form tersebut, padahal gratis tanpa biaya sepeser pun.

Langkah selanjutnya yaitu diminta ikut gathering. Hal ini dilakukan karena Developer tidak hanya memiliki tujuan agar rumahnya laku saja, tetapi punya tanggungjawab untuk dakwah dan juga terjalinnya silaturahmi antara calon pembeli satu dengan yang lain, bahkan dengan pihak developer. Developer juga bermaksud mengedukasi dan menyadarkan masyarakat akan bahaya riba.

Baca Juga  Keuntungan Investasi Property Syariah dan Perumahan Syariah

Apabila dalam acara gathering tersebut ada yang laku, itu artinya bonus buat mereka. Namun, niat awalnya dakwah dan mempererat tali silaturahmi.

Sebagai sesama Muslim, seharusnya kita mendukung mereka dalam dakwah anti riba, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *