Prinsip Bisnis Syariah

Prinsip Bisnis Syariah

Bentuk bisnis syariah sama dengan bisnis umumnya yaitu sebuah usaha untuk memproduksi suatu barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan konsumennya dan tentunya untuk mencari keuntungan. Perbedaan yang terletak di bisnis ini yaitu merupakan implementasi dari aturan Allah. Sehingga bermuamalah berdasarkan syariat islam.

Ciri-ciri yang ada pada bisnis ini yaitu : selalu mengingat bahwa kita makhluk Allah, sehingga patuh pada setiap perintah dan larangannya. Mengimplementasikan aturan secara Syar’i. Berorientasi tidak hanya untuk dunia, tapi juga untuk akhirat.

Prinsip-Prinsip Bisnis Syariah

Prinsip-prinsip yang terdapat dalam bisnis syariah ada 4 prinsip yaitu prinsip jual beli (Ba’i), Prinsip Sewa (Ijarah), Prinsip Bagi Hasil (Syirkah), Prinsip Wadiah (titipan), Prinsip Mudharabah.

A. Prinsip Jual Beli (Ba’i)

Prinsip jual beli terjadi karena adanya perpindahan kepemilikan barang (transfer of property). Dalam Prinsip ini pembagian keuntungan ditentukan di depan dan menjadi bagian harga atas barang yang dijual. Prinsip Jual Beli dibedakan berdasarkan bentuk pembayaran dan waktu penyerahan barang seperti :

  • Murabahah

Murabahah merupakan Akad dalam jual beli atas barang tertentu, penjual menyebutkan dengan jelas barang yang diperjualbelikan. Termasuk harga pembelian barang kepada pembeli, kemudian ia mensyaratkan keuntungan dalam jumlah tertentu. Dalam konsep murabahah penjual harus memberitahu harga produk yang dibeli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya. Murabahah juga bisa diterapkan untuk pembelian secara pemesanan.

  • Salam
Bisnis Syariah

Salam merupakan transaksi jual beli barang secara pesanan. Penjual akan menyerahkan barang dagangan di kemudian hari sementara pembeli melakukan pembayaran pada saat akad telah disepakati yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Jadi dalam akad ini pembayaran tunai dimuka, meskipun barang belum diterima.

Baca Juga  Hukum Jaminan Barang dalam Jual Beli

Dalam transaksi ini memang diperbolehkan, tetapi pembelian hasil produksi harus diketahui spesifikasinya secara jelas seperti jenis, macam, ukuran, mutu dan jumlahnya. Jadi jika hasil produksi yang diterima nantinya cacat atau tidak sesuai dengan akad maka produsen harus bertanggung jawab dengan cara mengembalikan dana yang telah diterimanya atau mengganti barang yang sesuai dengan pesanan.

  • Istishna

Istishna adalah akad transaksi yang terjalin antara pemesan sebagai pihak pertama dengan seorang produsen suatu barang sesuai yang diinginkan oleh pihak pertama dengan harga yang telah disepakati keduanya. Syarat-syarat objek yang akad menurut Fatwa DSN MUI yaitu

  • Spesifikasi harus dijelaskan
  • Penyerahan dilakukan kemudian
  • Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan
  • Sebelum menerima barang, pembeli tidak boleh menjualnya kepada pihak lain
  • Barang tidak boleh ditukar kecuali dengan barang sejenis sesuai dengan kesepakatan.
  • Memerlukan proses pembuatan setelah akad disepakati.
  • Barang yang diserahkan harus sesuai spesifikasi pemesan bukan barang contoh.

B. Prinsip Sewa (Ijarah)

Dalam prinsip Ijarah ada dua macam yaitu ijarah dengan objek transaksi berupa benda tertentu semisalnya menyewakan rumah, kos-kosan, rental kendaraan. Kedua ijarah transaksi pekerjaan tertentu misalnya memperkerjakan orang untuk membangun rumah, mencangkul kebun dan lain-lain.

Meskipun hanya sewa menyewa namun bisnis syariah ini juga harus memiliki persyaratan tertentu seperti :

  1. Pelaku usahanya adalah orang yang sudah baligh dan berakal.
  2. Harus ada kejelasan jasa atau manfaat uang dibeli misalnya menempati suatu rumah atau pelayanan yang diberikan oleh pembantu rumah tangga.
Baca Juga  Keajaiban Properti

C. Prinsip Bagi Hasil (Syirkah)

Bisnis Syariah

Merupakan akad kerja sama antara dua pihak atau lebih dalam suatu usaha. Di mana masing-masing pihak memberikan kontribusi modal dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko yang akan diperoleh ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.

Syirkah sendiri terdiri dari enam macam namun secara garis besarnya syirkah bisa dibedakan menjadi dua jenis yakni Syirkah Amlak dan  Syirkah Uqud. Syirkah Amlak yakni kerja sama antara dua orang atau lebih dalam kepemilikan suatu barang. Sementara Syirkah Uqud yakni perserikatan antara dua pihak atau lebih dalam hal usaha, modal dan keuntungan.

Macam syirkah di kelompokan menjadi beberapa bentuk pertama Syirkah Inan yakni kerja sama antara dua orang atau lebih dalam permodalan untuk melakukan suatu usaha bersama dengan cara membagi untung sesuai dengan jumlah modal masing-masing.

Kedua Syirkah Mufawadhah, kerja sama antara dua orang atau lebih untuk melakukan suatu usaha dengan syarat-syarat sebagai berikut

Modalnya harus sama banyak. Bila ada di antara anggota persyarikatan modalnya lebih besar maka syirkah tersebut tidak syah.

Tak Semua Bisnis Berlabel Syariah Itu Bisnis Syariah

Bisnis syariah saat ini menjadi trend sehingga agak sulit membedakan antara bisnis syariah sesungguhnya atau hanya berlabel syariah. Kini banyak bisnis yang berlabel syariah namun ternyata tetap melanggar hukum syara. Tetap mengandung riba di dalamnya.

Jangan sampai tertitu, anda harus teliti dulu sebelum memutuskan untuk berbisnis tersebut atau tidak. PahamiBagaimana cara mereka mendirikan suatu bisnis, bagaimana pelaksanaannya, bagaimana cara mendapatkan keuntungan. Pernahkah mereka melakukan penipuan.

3 thoughts on “Prinsip Bisnis Syariah”

  1. Pingback: Kesucian Akad | Grand Syafa Madina

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *